Forget-Me-Knot
- sweet&sin

- 29 Sep 2022
- 3 menit membaca
"What if...."
Menjelang pertengahan September gue mulai dibuat pusing lagi dengan ke nano-nanoan batin dan kepala, seperti tahun 2020 lalu. Deg-degan setengah idup perkara tugas yang wajib gue selesaikan sebagai mahasiswa semester akhir…tahu kan? Tahu dong, dah gak usah sebut, jangan berani nyebut! Jangan ngingetin gue! (emot agak nangis tapi najes malu ama umur, gajadi!)
Sore ini, di salah satu kedai kopi yang gak rame-rame banget, tetesan air hujan masih nampak sesekali berjatuhan dari ujung daun, aroma tanah basah juga masih enggan pergi dari indra penciuman, segelas long black dengan sabarnya menemani gue yang sedang sepet didepan laptop hingga 3 biji es batu didalamnya pun lebur seperti hujan tadi. Duduk di kursi berwarna merah, pikiran gue sesekali pergi ke tempat-tempat jauh, menuju hal-hal yang eksistensinya masih gue pertanyakan.
Derit kursi abu-abu dihadapan gue kembali membawa kesadaran gue ketempatnya, mengalihkan pandang ke sosok seorang anak manusia sedang heboh curhat masalah romansa yang gue kira sudah menemui kata “The End” satu tahun lalu. Ternyata masih tahap “Bersambung” baginya.
Orang-orang nampak sibuk dengan kegiatan masing-masing, barista yang sedang menuang minuman ke gelas, 1..2…3…4…waitress berseragam merah muda yang hilir mudik sembari mebawa baki,
“….mencintai seperti sayyidina Ali”
-, dua pemuda Chinese saling bertukar tawa atas apapun yang terjadi di kedua gawai mereka, dan batang rokok terselip dengan angkuhnya di sela-sela jemarinya.
“….neraka nomor 7”
"Apa si?!" seketika akalku kembali membumi, entah hal sialan apa yang sedang dia ceritakan.
"Menurut lo, gue kudu gimana?"
Gue memilih bungkam. Persoalan romansa belum pernah jadi keahlian gue selama ini. Rapor gue tentang cinta-cintaan juga gue yakini rada jauh dari KKM. Tapi kalau dipaksa jawab nih, setau gue kuncinya adalah let it be. Kalimatnya simple, meski prakteknya agak bikin nyesek di dada. Pernah denger quotes dari Kahlil Gibran yang bilang,
If you love somebody, let them go, for if they return, they were always yours
If they don’t, they never were
Gue rasa ini ada benarnya,
Gue selalu mengibaratkan hidup seperti benang dengan banyak simpul, kadang melalui simpul itu kita jadi bertemu dengan benang lain, terurai, lalu terjebak dalam simpul lagi, dan seterusnya. Kadang kita bertemu orang lain dalam satu simpul, mengikat erat selama beberapa saat, lalu terlepas, kemudian bertemu orang lain lagi lalu terlepas, ada pula yang terjebak dalam simpul bersama benang lama, bertemu orang dari masa lalu, lalu terjebak selamanya. pada setiap simpul kita mungkin mengalami banyak hal, bertemu, belajar, tertawa, terluka, dan sebagainya. Intinya, dalam hidup, tiap peristiwa seperti pertemuan dan perpisahan pasti banyak dilalui, mau seberapa besar kita mengingkarinya pada akhirnya yang terjadi ya terjadi. Mau sengotot apapun bertahan dalam sebuah simpul, kalau memang waktunya digariskan untuk benang milik kita terurai ya akan terurai juga.

Masih mempertanyakan setiap peristiwa baik petemuan dan perpisahan adalah bentuk pengingkaran, ego dalam diri masih enggan menerima, mungkin hal ini juga didasari cara kita memandang sesuatu sebagai menang atau kalah. Jika tersakiti maka kita kalah, jika ditinggalkan maka kita kalah, dan sebaliknya. Kekalahan dalam diri manusia bukan sesuatu yang dapat begitu saja diterima, buruknya mungkin bisa menimbulkan dendam. Dendam membuat kita terlalu buta dan sibuk melihat faktor kekalahan dan sakit ditimbulkan oleh orang lain, pada kenyataannya mungkin diri sendiri juga turut memupuk rasa kalah dan sakit itu. Nampaknya, berhenti memandang segala hal dalam hidup sebagai perkara menang/kalah demi menjaga kepala tetap waras ada pentingnya. Balik lagi, yang terjadi ya terjadi, nggak usah repot-repot mengingkari, bikin pusing aja.
Just,
let it be.




yeyyyy